Kajian Pengaruh Lokasi Geografis Terhadap Masakan 3

Selasa, 6 Okt '09 11:50

Yak! Saya kembali dengan sebuah ulasan sok tau tentang masakan. Kali ini saya menulis karena teringat pas makan masakan padang. Kenapa masakan padang itu terkenal pedas dan spicy?

Saya merenung dan teringat bahwa masakan Indonesia ini (tak hanya padang) kebanyakan berbumbu, spicy, dan kaya rempah.

Bila melihat lebih luas, bila dibandingkan dengan makanan-makanan Eropa, Jepang, Korea, dan sebagainya, makanan-makanan dari daerah sub-tropis itu hampir semua "hambar", tidak berbumbu, dan menurutku tidak berasa kurang nendang.

Namun bila memperhatikan masakan-masakan dari daerah yang berada di sekitar khatulistiwa, masakan-masakannya cenderung pedas, spicy, dan penuh rempah. Lihatlah India, Arab, Thailand, Mexico, yang semuanya berada di daerah beriklim tropis. Semuanya makanan "pedas", bukan?

Nah, adakah hubungannya antara masakan dengan posisi geografis? Mari kita buka atlas dan buku sejarah!

Masih ingat kenapa negeri kita ini dijajah oleh bangsa Eropa? Ya, karena komoditas rempah-rempah (salah satu bumbu dapur juga termasuk rempah-rempah), yang hanya bisa tumbuh di negara-negara beriklim tropis. Rempah-rempah ini bernilai mahal karena keistimewaannya dalam memberikan cita rasa masakan dan unsur "pengawet".

Negara-negara tropis memiliki kelembaban yang sangat tinggi. Oleh karena itu makanan bisa cepat basi. Bumbu-bumbu, terutama yang bersifat spicy, rupanya secara kimiawi dapat mencegah berkembangnya bakteri pembusuk makanan.

Contoh gampangnya adalah rendang. Rendang itu disimpan dalam waktu lama tidak mudah basi bukan? Tau kan bumbu rendang itu terdiri dari apa saja? Begitulah.

Kita lihat Thailand, Vietnam, India, Arab, dan Mexico yang semua masakannya punya cita rasa pedas, entah dari lada atau dari cabai.

Karena rasa pedasnya, orang-orang Eropa dan Amerika (Utara) menggambarkan makanan Mexico dalam komik atau film kartun dengan makanan api di mana jika kita memakannya, lidah kita bakal terbakar.

Nah, di negara-negara subtropis, tanaman-tanaman rempah-rempah tidak dapat tumbuh. Makanya mereka tidak mengenal rempah-rempah dalam tradisi kuliner mereka. Makanya ndak heran kalo makanan ala Eropa itu mengolahnya cepat, mudah, dan rasanya cenderung "hambar" karena berbasis keju dan susu.

Karena iklim juga, makanan mereka tidak cepat basi. Suhu dingin dan kelembaban rendah membuat bakteri pembusuk makanan tidak dapat berkembang dengan baik (minimal bila dibandingkan dengan bakteri di daerah tropis).

Lihat pula Jepang. Dengan dalih kesegaran, masakan mereka pun kebanyakan mentah dan bumbunya pun juga gitu-gitu aja. Seorang teman yang cukup lama tinggal di Jepang dan sampai sekarang kurang suka dengan makanan Jepang bilang, "makanan Jepang itu cantik penampilan tapi rasanya berantakan".

Saya pun sependapat. Ini sih opini gak penting, karena ini soal rasa yang amat sangat subyektif. Ndak perlu diperdebatkan.

Makanya ndak heran kalo ritual memasak di Indonesia itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengolah makanan dengan bumbu itu tidak mudah!

Kesimpulannya? Saya lebih suka masakan tropis berbumbu daraipada masakan berbasis susu dan keju yang cenderung hambar. Sebuah kesimpulan yang gak penting kan ya? He he he..


Tag: masakan, tropis, subtropis, bumbu, rempah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Doeh 0 0
Sekarang orang tidak lagi peduli akan budaya suatu makanan, mulai dari meracik bumbu2nya, memasaknya bahkan sampai cara dan saat ketika makanannya dimakan, sekarang orang lebih suka hal yang INSTAN, kalo menurut anda bagaimana : ))
Matt Zammy 0 0
Doeh: berarti orang itu tidak berbudaya.. : p
mlandhing 0 0
emang rempah bikin hidup lebih indah... aku sepakat rempah memiliki kekuatan tersendiri dalam memajakan lidah kita... : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat