Pempek, Ikon Makanan Palembang 5

Kamis, 31 Des '09 16:39

Pernahkah Anda bertanya, mengapa makanan khas Palembang satu ini diberi nama Pempek? Ya, makanan ini memiliki cerita yang lumayan panjang. Ada nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam perjalanan makanan yang menjadi ikon Palembang ini. Kali ini, saya mencoba menceritakan tentang sejarah Pempek secara garis besar.

Pempek merupakan simbol persatuan antara 2 etnis pada abad ke-3 masehi. Dua etnis tersebut adalah Palembang dan Tionghoa. Pada zaman itu, masyarakat Tionghoa merupakan masyarakat pendatang dengan tujuan untuk berdagang. Aktivitas perdagangan mereka di kota Palembang secara langsung berhubungan langsung dengan masyarakat lokal. Hubungan yang akhirnya erat ini pun dipersatukan dalam simbol-simbol yang menggambarkan persatuan tersebut. Mulai dari pernikahan antar etnis Palembang dan Tionghoa, pakaian adat sampai pada makanan. Ambil contoh pada pakaian adat, jika Anda pernah melihat pakaian adat Palembang maka Anda akan medapatkan pakaian yang berwarna merah dengan aksesoris berwarna kuning emas. Warna pakaian tersebut diadaptasi dari warna tradisi Tionghoa dan mahkota pakaiannya juga mengadaptasi dari mahkota permaisuri kerjaan Tionghoa.

Kembali ke Pempek, makanan ini pun mengandung nilai sejarah yang menceritakan tentang persatuan tersebut. Dahulu, Pempek itu merupakan hasil resep masakan racikan masyarakat lokal dengan mencampurkan tepung kanji dengan daging ikan yang banyak diperoleh di sungai Musi. Dengan mencampurkan kedua bahan tadi lalu diberi sedikit penyedap (garam) lalu direbus, maka terciptalah makanan yang belum bernama tersebut. Berhubung waktu itu Palembang memang merupakan kawasan dagang, makanan ini pun dijual, tetapi yang menjual makanan ini berasal dari etnis Tionghoa. Disaat makanan ini dijajakan, masyarakat yang ingin membeli pun sedikit kebingungan untuk menyebut makanan yang dijajakan tersebut. Pada saat itu, masyarakat Tionghoa yang menjual Pempek dipanggil dengan sebutan Apek, disaat masyarakat ingin membeli mereka pun memanggil dengan teriakan “Pek, Pek”. Yang maksudnya memanggil Apek tadi. Karena seringnya memanggil dengan teriakan seperti itu, maka dengan sedikit kebiasaan memanggil maka akhirnya dihasilkan nama PEMPEK. Dan akhirnya, nama inilah yang melekat untuk makanan yang menjadi simbol kota Palembang.

Pempek itu sendiri ada beberapa bentuk dasar. Antara lain: Lenjer, Pempek yang berbentuk panjang. Pempek Telok, Pempek yang berbentuk seperti pastel dan berisi telur. Pempek Kapal Selem, Pempek yang berbentuk seperti pastel dan berisi telur tapi berukuran lebih besar. Pempek Pistel, Pempek yang berbentuk seperti pastel tapi berisi pepaya muda dan Pempek Dadaan, Pempek yang berbentuk bulat dan digoreng.

Untuk menikmati Pempek di kota asalnya sangatlah mudah. Dimana-mana Anda bisa temukan penjaja yang menjual makanan enak ini, mulai dari sepeda, dijinjing sampai toko komersil semacam Pempek Candy, pak Raden dan Pempek Nony.

Menurut orang Palembang, Pempek yang dibuat Palembang dan dibuat oleh orang Palembang baik yang asli maupun yang menetap lama akan memiliki citarasa khas yang tidak akan bisa disamai oleh Pempek yang dibuat diluar kota Palembang. Benar atau tidak, bagi saya itu benar. Terlepas dari beberapa mitos yang ada, bagi saya belum pernah ada rasa Pempek diluar Palembang yang bisa menandingi keaslian citarasa Pempek Palembang.  


Tag: pempek

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mlandhing 1 suka | 0
hm, soal keaslian rasa sepakat sih... yang diluar palembang emang gak sama... kenapa ya? apa karena bahannya tidak sama... atau karena suasananya yang berbeda?
Wahyu Budiyono 0 0
karena aer sungai Musi, mbak...
Itu kata tetua yang ada disni : )
mlandhing 0 0
Wahyu Budiyono: lhah, memang semua pempek pakai air musi gituh? : o
bubid 0 0
mungkin karena ikannya idup di air sungai musi?
potretkaca 0 0
: ( belum pernah nyobain yang asli palembang

Silahkan login untuk memberikan pendapat