Tumis Genjer, Tumisan Yang Semakin Langka 3
Minggu, 7 Feb '10 17:13
Beberapa waktu yang lalu, saya sudah lama sekali tidak berkeliling ke pinggiran kota Palembang. Kegiatan ini biasanya saya lakukan disela-sela waktu luang saya dengan tujuan sekedar mencari udara segar. Setelah beberapa saat berkeliling, ada beberapa perubahan yang cukup mencolok yang terjadi dengan kawasan pinggiran kota ini. Khususnya di daerah seputaran jalan raya menuju Pusri, kawasan Seduduk Putih dan daerah seputaran Angkatan 66. Setelah beberapa waktu mencerna perubahan sekitar, saya mendapatkan sebuah gambaran bahwa kawasan rawa yang begitu luas sekarang sudah menjadi tanah lapang hasil penimbunan. Bukannya saya menentang perubahan tersebut tapi salah satu yang membuat saya memiliki kesimpulan kalau rawa-rawa ini ditimbun tentunya salah satu kuliner asli Indonesia akan lambat laun akan punah. Karena salah satu tanaman yang secara otomatis hilang adalah Genjer.
Genjer merupakan keluarga dari enceng gondok, dimana bunga Genjer ini sering sekali dijadikan sayuran oleh masyarakat sekitar sebagai lauk yang menemani nasi. Setelah beberapa saat berlalu, saya pun pulang ke rumah dan mengatakan kepada ibu saya kalau saya kangen sekali dengan Tumis Genjer. Ibu saya agak kaget dan mengatakan bahwa sayuran itu sudah susah dicari sekarang. Dan cara satu-satunya untuk merasakan Tumisan ini adalah dengan berburu ke pasar-pasar tradisional.
Syukurlah, akhirnya perburuan pun membuahkan hasil dan betapa kagetnya saya. Genjer yang seikatnya dulu hanya berharga 300 Rupiah saja sekarang melonjak menjadi seribu Rupiah per ikat dan ikatannya pun sedikit sekali. Tapi demi memuaskan keinginan untuk makan berlauk Tumis Genjer dengan terpaksa dilakukan. Alhasil, Ibu saya pun memasakkan Tumis Genjer ini dengan resep dan cita rasa yang sama persis seperti apa yang saya inginkan.
Menurut sumber dari koki terbaiknya yaitu Ibu saya sendiri, hehehehe... Saya pun mencatat apa saja yang menjadi bumbu untuk mengolah Genjer menjadi Lauk yang pas untuk menemani makan siang. Berikut adalah komposisi per porsinya:
- Genjer 3 ikat
- Bawang Merah 2 siung
- Bawang Putih 2 siung
- Cabe hijau 5 buah
- Cabe merah 1 buah
- Duan Salam 2 lembar
- Tauco 1 sendok makan
- Minyak Goreng 2 sendok makan
Langka pembuatannya adalah sebagai berikut:
- Genjer dipetik/dpisahkan dari bagian bawah bunga lalu cuci kemudian remas-remas
- Panaskan minyak lalu masukkan bawang merah dan bawang putih yang sudah diiris lalu tumis.
- Masukkan cabe hijau dan cabe merah yang sudah dirajang
- Masukkan Daun Salam
- Masukkan Genjer yang telah dibersihkan dan diremas-remas tadi sambil diaduk
- Masukkan Tauco lalu aduk merata
- Tambahkan garam dan penyedap sesuai selera.
- Angkat lalu sajikan.
Satu porsi resep ini bisa dinikmati oleh 3-4 orang sekali makan. Rasa tumisan Genjer yang sedikit berasa pahit khas Genjer mampu menambah selera makan. Jika Anda ingin mendapatkan Genjer di kota Palembang, saya sarankan untuk mencarinya di pasar-pasar tradisional, seperti: Pasar Kuto, Pasar Lemabang, Pasar Plaju dan Pasar Kertapati.
Tumis Genjer ini adalah salah satu menu yang hampir-hampir tidak pernah lagi disajikan dirumah makan kota Palembang tapi masih menjadi sajian khas masyarakat bantaran sungai Musi dan sekitarnya. Selamat mencoba...
Tag: Tumis Genjer
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
mlandhing: Renyah Gurih

Komentar:
tapi pelan-pelan deh, aku yakin ada saatnya aku akan mencoba sayuran genjer ini... toh dulu aku juga gak suka leunca, sekarang mau... dulu aku emoh bunga pepaya, sekarang nagih... hehehe
Silahkan login untuk memberikan pendapat