Kedai Ngopi dengan Aneka Kue, Setia Buka Nonstop 2

Selasa, 13 Apr '10 14:03

Priyayi Coffee & Cakes,

Jl. Bhayangkara 78, Tipes

Surakarta, Indonesia

Tel: (0271) 912 5665

Solo, the city that never sleeps…

--

Kota para priyayi, demikian masyarakat menyebut Solo. Ia adalah ingatan tentang kehidupan masa lampau yang akarnya tak tercerabut hingga kini. Para priyayi masih bergaya parlente dan noni-noni.

Solo setidaknya memiliki tiga kelas sosial; yakni masyarakat ningrat atau keluarga bangsawan, priyayi atau keluarga menengah, dan saudagar atau keluarga pedagang kaya. Dan, kedai ngopi yang satu ini hadir di Solo sejak 18 September 2007 dengan nama ”Priyayi, Coffee & Cakes”. Bukan untuk meneguhkan strata kaum ini, namun justru untuk menabrak pakemnya.

Ya, tak ada tradisi ngopi di Solo.

Alih-alih menghirup kepekatan kopi – dan tentu kepahitannya; lidah wong Solo memilih manis sebagai kaidah utama santapan; juga dalam ucapan yang manis tutur-katanya. Masyarakat setempat lebih suka teh dan sirup. Kalau pun perlu mencercap minuman pahit, pastilah itu jamu – itu pun dengan penawar rasa pahit setelahnya. Mereka juga tidak benar-benar mengenal kue. Bagi mereka, yang ada hanya roti. Kalau pun sesuatu itu bernama kue, ia pastilah roti basah!

Priyayi Coffee & Cakes adalah sebuah kedai ngopi sederhana di Jalan Bhayangkara 78, Tipes, Serengan, Solo, Jawa Tengah. Ia merupakan anak dari Dapur Blonjokue, dapur rumahan produksi kue di kediaman pribadi Anis Ardianti, seorang sarjana teknik kimia Institut Teknologi Bandung yang banting setir ke bisnis kuliner setelah tahun-tahun sebelumnya berkarir di dunia jurnalistik di Jakarta. Kini, keduanya bernaung di bawah CV Tradisi Citarasa.

Dan, bisnis kopi adalah ice breaker! Demikian pula bisnis kue di tengah belantara bisnis roti yang sungguh menjamur di Solo.

Bermula dari hobi membuat kue, dan menjajakannya di pasar jongkok di depan Pesona Kahyangan, Depok, di selatan Jakarta, Anis kemudian membuka usaha secara lebih serius di kampung halaman suaminya, Candra Malik. Tak sampai setahun kemudian, tepatnya pada 21 Mei 2008, sang maestro Bondan Winarno menyambangi kafe mereka, mencicipi Klappertart, dan berseru,”Mak nyuss!” dalam syuting yang direkam untuk disiarkan pada Wisata Kuliner di Trans TV.

Apa yang selanjutnya terjadi, sungguh bisa ditebak: order berdatangan. Mulai dari penikmat kue sejati, petualang kuliner, hotel melati hingga hotel yang tak mau repot urusan pastry, resto, hingga sesama kedai ngopi. Tapi, Anis mencoba teguh untuk tetap bersikap tegas. ”Kue kami homemade, bukan pabrikan. Tak semua order bisa kami penuhi. Dan, untuk order yang kami terima, kami akan terus berusaha memberi yang terbaik,” janji ibu dua anak yang tengah hamil anak ketiga ini. Ia bersikap demikian demi mempertahankan mutu produk.

Selain memenuhi pesanan, kue-kue dari Dapur Blonjokue tentu saja disajikan di Priyayi, Coffee & Cakes. Kafe ini memenuhi idiom yang lekat dengan Solo, yakni the city that never sleeps. Ia buka 24 jam nonstop, bahkan pada tanggal merah, hari raya, dan libur nasional lainnya, sehingga dapat diandalkan sebagai tempat pertemuan berbagai kepentingan. Pengunjung juga leluasa melakukan aktivitas Wi-Fi gratis dan ditemani melek oleh siaran televisi berlangganan.

Bagi penggemar kopi, Priyayi Coffee & Cakes menyuguhkan Espresso, Cappucino, Black Demon dan Black Coffee, Super Black Mousse, Super Espresso/Cappucino Mousse, Moccacino, Coffee Latte, Red Fruit Coffee, Dark Robusta, Frappucino, dan Extremme Coffee. Ada pula Hazelnuts Coffee, Vanilla Coffee, Caramell Coffee; dan aneka minuman cokelat; antara lain: Hazelnuts Chocolate, Vanilla Chocolate, Caramel Chocolate, dan Chocolate Float. Bagi yang tidak ngopi, masih ada baverages lainnya.

Jasmine, Peach, Peppermint, Strawberry, Blackcurrant, dan Green Tea untuk aneka minuman teh. Dan, tentu saja, selalu ada teh lokal yang istimewa di sini. Ragam minuman Float, Milk Squash, Squash, Milkshake, dan Juice juga dapat dipilih sesuai selera. Cocok untuk menemani pengunjung menikmati kue-kue.

Sebut saja; antara lain: Tiramisu, Cheesecakes, Opera Cake, Klappertart, Mousse, Black Forest, Truffle, Brownies Panggang, Brownies Kukus, Fruit Cakes, Macaroni Schotel, Cakes with Pondan, Red Velvet Cakes, Cup Cakes,  dan aneka kue pesanan lainnya. Juga disediakan Zuppa Soup, Spaghetty, Lasagna, Chicken/Beef Burger, Omelet, Sandwich, dan French Fries.

Keberadaan kafe yang di sayap jalan protokol kota, Jalan Slamet Riyadi, menjadikan Priyayi Coffee & Cakes mudah dijangkau. Hanya 2 menit dari rumah dinas Walikota Solo dan Stadion Sriwedari dan 10 menit dari Stasiun Kereta Api Balapan. Tak jauh pula dari obyek-obyek wisata Museum Batik Danar Hadi, Museum Ronggowarsito, Pura Mangkunegaran, Keraton Kasunanan Surakarta, Pasar Klewer, dan Pasar Antik Windujenar.

Meski menanggung ongkos sosial untuk mengedukasi masyarakat Solo yang lebih intim dengan aneka jajan pasar, Priyayi Coffee & Cakes dan Dapur Blonjokue akhirnya mendapat hati publik. Terutama dari mereka yang memang pecinta kue. ”Tadinya, kami sempat stres karena orang Solo lebih suka roti daripada kue. Mereka minta yang murah, besar, dan harus manis. Padahal, tidak semua kue itu manis. Susah menaruh harga murah,” keluh Anis. Apalagi, ia setia menggunakan resep asli dan menolak pemanis buatan dan pengawet.

Ia bersabar pula membagi pengetahuan kepada para pelanggan kue untuk selalu memperlakukan cakes secara ”handle with care”. ”Kami selalu bertanya kue pesanan akan dibawa ke mana. Jika untuk dibawa ke luar kota, kami selalu menyarankan kue yang lebih kokoh di perjalanan dan dengan masa kedaluwarsa lebih panjang,” papar Anis. Ia juga menyarankan agar pelanggan menyimpan kue secara baik sesuai aturan; baik itu harus sesuai suhu ruang atau harus masuk kulkas. Anis memegang teguh prinsip “satisfaction before sale.”

Dan, yang menarik, Anis juga lebih menyukai gaya jasa penjahit dalam berbisnis kue. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, ia tak sungkan bertanya budget pemesan kue. ”Prinsipnya, jangan sampai menolak pesanan hanya gara-gara budget tidak sesuai patokan. Harga masih bisa ditoleransi dengan bersikap terbuka kepada klien dan memilih secara bersama-sama bahan-bahan kue yang lebih pas dengan kantong,” paparnya. Alhasil, pemesan kue merasa senang sejak awal – dan tentu saja tidak merasa kecewa atau tertipu pada akhirnya.

Andre Ardiyanto, operational Manager Priyayi Coffee & Cakes, juga bersikap terbuka kepada pengunjung tentang bagaimana kafe dikelola. ”Beberapa di antara mereka bahkan lantas membuka kedai ngopi sendiri dan kami tetap bersahabat – meski tetap bersaing secara sehat,” jelasnya. Menurut Andre, Priyayi Coffee & Cakes sudah ibarat rumah bagi pelanggannya. ”Mereka ke coffeeshop lain hanya untuk mencari pengalaman. Pulang tetap ke Priyayi.” Apalagi, sekali lagi, hanya kedai ngopi ini yang di Solo punya kudapan beragam.

Setidaknya, itu berlaku bagi para penggemar dugem yang ”tidak bisa pulang” setelah bar dan night club yang mereka kunjungi sudah tutup. Nyaris bisa dipastikan, mereka pasti mampir ke Priyayi Coffee & Cakes dan begadang sampai pagi. Siang dan malam memang silih-berganti, namun para pramusaji dan barista di kedai ngopi ini selalu setia membukakan pintu dan melayani para tamu. Merekalah jurukunci Solo, the city that never sleeps.

Foto dan Tulisan dikirim oleh Mas Candra Malik

--


Tag: solo, kopi, kue, Cafe

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mlandhing 0 0
hm, semakin banyak saja cafe yang buka 24 jam gini di daerah... salut.
chaos 0 0
hmmm...kayaknya enak tuh, tapi soal harga gmn y??

Silahkan login untuk memberikan pendapat